Tampilkan postingan dengan label contoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Mei 2010

Ceker Ayam Asam Manis

Resep Ceker Ayam Asam Manis

Bahan:

  • 20 kaki ayam, bersihkan kulit dan kuku
  • 7 siung bawang putih, haluskan
  • 1 sdt garam (secukupnya)
  • 200 ml minyak goreng
  • 1 liter air es/es batu
  • 2 sdm air jeruk nipis/cuka
  • 2 sdt minyak wijen

Bumbu Halus:

  • 1 sdt garam (secukupnya)
  • 1 sdm gula pasir
  • 1 sdt merica bubuk
  • 1 ruas jari jahe, haluskan
  • 7 siung bawang putih (haluskan)
  • 5 sdm saos tomat (secukupnya)

Cara Membuat:

  1. Lumuri kaki ayam dengan garam dan bawang putih yang telah dihaluskan, diamkan dalam lemari es selama 30 menit.
  2. Goreng kaki ayam hingga matang. Angkat dan masukkan ke dalam air es dalam keadaan panas-panas hingga mekar.
  3. Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan bumbu lain dan kaki ayam, aduk sebentar. Masukkan air, air jeruk atau cuka dan minyak wijen. Masak sejenak dan angkat.
  4. Sajikan selagi panas.


Untuk 4 porsi

Ceker Panggang

Resep Ceker Panggang

Bahan:
  • 20 ceker/kaki ayam, bersihkan
  • 500 ml air kelapal500 ml santan kental
  • 50 g gula merah (secukupnya)
  • 6 lbr daun salam


Bumbu Halus:

  • 8 btr bawang merah
  • 6 siung bawang putih
  • 4 btr kemiri, sangrai
  • 2 sdt ketumbar, sangrai
  • 1 sdt garam
  • 1 ruas jari lengkuas


Cara Membuat:

  1. Campur ceker, gula merah, air kelapa, daun salam dan bumbu halus. Masak hingga air habis dan ceker lunak.
  2. Masukkan santan dan teruskan memasak hingga santan habis.
  3. Panggang ceker hingga harum.
  4. Sajikan selagi panas dengan nasi hangat.
Untuk 4 porsi

Selasa, 04 Mei 2010

Dzikir Setelah Sholat

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada seluruh orang melihat tulisan ini dari kalangan kaum muslimin

“Merupakan dari perbuatan sunnah, seorang muslim mengucapkan setelah setiap shalat fardu membaca ASTAGHFIRULLAH tiga kali,
kemudian dilanjutkan dengan:


ALLAHUMMA ANTAS SALAAM WA MINKAS SALAAM TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM

LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH



LAA ILAAHA ILLALLAHU, LAA NA'BUDU ILLA IYYAHU, LAHUN NI'MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA-UL HASAN, LAA ILAAHA ILLALLAHU, MUKHLISHIINA LAHUDDINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUN, ALLAHUMMA LAA MAA NI'A LIMAA A'THOITA, WA LAA MU'TIYA LIMAA MANA'TA, WALAA YANFA' DZAL JADDI MINKAL JADDU.

Khusus setelah shalat subuh dan maghrib, bacalah zikir yang dibawah ini sepuluh kali setelah mengucapkan zikir yang di atas:



LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WAYUMIIT WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR

Kemudian membaca: SUBHAANALLAH tigapuluh tiga kali, ALHAMDULILLAH tigapuluh tiga kali; ALLAHU AKBAR tigapuluh tiga kali; untuk melengkapi bilangan menjadi seratus bacalah:



LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR

Kemudian membaca ayat kursi, kemudian surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas, kalau seandainya setelah shalat subuh dan maghrib dibaca tiga kali.

Inilah yang lebih baik (afdhal) dan semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan atas keluarga beliau dan sahabat-sahabatnya serta yang mengikutinya dengan baik sampai hari pembalasan.

Tempe-Tahu Bacem

Bahan:
500 g tempe, potong-potong
750 ml air kelapa
700 g gula merah
3 sdm kecap manis
1 cm lengkuas, memarkan
2 lembar daun salam
minyak goring

Haluskan:
6 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
½ sdt jintan
1 sdt garam

Cara membuat:
• Taruh potongan tempe dalam panci. Tuangi air kelapa, bumbu halus, dan bumbu lainnya.
• Masak hingga air habis. Angkat.
• Goreng tempe dalam minyak panas di atas api sedang hingga kecokelatan.
• Angkat dan tiriskan.
• Sajikan hangat.

Untuk 6 orang

Kering Tempe


Bahan:
500 g tempe yang bagus kualitasnya
minyak goreng
3 buah cabai merah besar, buang bijinya, iris serong tipis, goreng kering
3 sdm bawang merah goreng
1 sdm bawang putih goreng
1 cm lengkuas
2 lembar daun salam

Bumbu:
100 g gula pasir
25 g gula Jawa, sisir
75 ml air
1 sdt garam
1 sdt air jeruk nipis

Cara membuat:
• Potong-potong tempe sebesar korek api batang.
• Goreng dalam minyak panas hingga kuning dan kering. Angkat dan tiriskan.
• Jerangkan bumbu, lengkuas, dan daun salam hingga mendidih dan agak kental.
• Masukkan tempe, cabai merah, bawang merah, dan bawang putih. Aduk hingga tercampur rata. Angkat dan dinginkan.
• Simpan dalam wadah bertutup dan kering.
Untuk 400 gram

Pepes Tahu


Bahan:
2 potong (400 g) tahu putih yang bagus mutunya
1 butir telur ayam, kocok
20 lembar daun kemangi
1 buah cabai merah, iris tipis
1 buah cabai hijau, iris tipis
daun pisang

Haluskan:
5 butir bawang merah
2 siung bawang putih
½ sdt merica butiran
1 sdt garam

Cara membuat:
• Tiriskan tahu, haluskan.
• Campur tahu halus dengan telur, cabai, kemangi, dan bumbu halus. Aduk hingga rata.
• Ambil sepotong daun pisang, beri 2 sdm adonan tahu. Gulung daun pisang sambil
padatkan. Semat kedua ujungnya dengan lidi.
• Kukus dalam dandang panas hingga matang. Angkat.
• Bakar di atas bara api hingga daun kering. Angkat.

Untuk 4 bungkus

Pepes Ikan Tongkol

Bahan:
500 gr ikan cuek tongkol
2 ikat daun kemangi, petiki daunnya
8 bh belimbing sayur, iris kasar
4 btg serai, ambil putihnya, iris halus
4 lbr daun salam
daun pisang untuk membungkus

Haluskan:
6 buah cabai merah
6 bh bawang merah
3 siung bawang putih
1 ruas kunyit
4 butir kemiri
1 sdt garam

Cara membuat:
1. Aduk rata ikan, bumbu halus, kemangi, belimbing sayur, dan serai.
2. Ambil daun pisang, taruh selembar daun salam, ikan berbumbu, kemudian bungkus memanjang dan semat ujungnya dengan lidi.
3. Kukus dalam dandang yang sudah dipanaskan sampai matang, angkat lalu panggang di atas arang hingga harum.

Untuk 4 bks

Pepes Ikan Asin Peda

Bahan :
2 Ekor ikan asin peda, bagus yang putih bukan peda merah, biar gak ancur.
Santan kental
1 ikat daun singkong, petiki, dan rebus, setelah matang rajang halus.
Daun kemangi, petiki daunnya
Cabe merah diiris miring
Tomat dan cebe rawit , diiris, bila suka
Salam, sereh, daun jeruk
garam & gula
daun pisang

Bumbu yang dihaluskan :
Kunyit
Bawang merah
Bawang putih
Kemiri

Cara membuat :
1. Tumis bumbu halus sampai wangi, masukkan salam,sereh, daun jeruk.
2. Masukkan santan kental, daun singkong, dan ikan peda. Beri gram-gula sesuai
selera. Setelah kuah jadi sedikit / agak kering, matikan api.
3. Letakkan ikan peda dan teman-temannya dalam daun pisang yang sudah
dilemaskan, beri irisan tomat, cabe merah/rawit, dan daun kemanggi…jangan lupa
kuah yang sudah sedikit itu juga dibawa ya.
4. Terserah deh ngebungkusnya gimana hehehe.
5. Kukus lalu bakar atau bakar langsung..terserah juga.
6. Makan dengan nasi hangat…..

Pepes Ikan Mas


Bahan:
ikan mas utuh
cabe merah utuh atau boleh juga diiris serong-serong
daun kemangi
daun bawang diiris-iris
serai dimemarkan
daun salam
tomat diris besar-besar
daun pisang untuk membungkus

bumbu dihaluskan:
cabe merah
kunyit sedikit
bawang merah putih
kemiri
garam

Cara Membuat:
1. Tumis bumbu, masukkan sedikit air
2. Masukkan ikan, sampai kuah kering, jangan terlalu matang
3. Matikan api, tutup wajan, biarkan sampai bumbu meresap
4. Tata diatas daun ikan dan kawan-kawan penghias tadi, bungkus rapi
5. Kukus 2-3 jam. Lebih sedap bakar sebentar di atas api, caranya kalau ada loyang
bekas, letakkan pepes di atas loyang taruh di atas api kompor, sambil dibalik balik

Gulai Kepala Ikan

Bahan:
1 bh kepala ikan kakap merah, belah dua
2 sdm air jeruk nipis
1 sdt garam
600 ml santan kelapa
1 lembar daun pandan, potong, ikat
2 btg serai, memarkan
6-7 buah belimbing sayur/wuluh
1-2 potong asam kandis/glugur
10 lembar daun salam
2 sdm minyak utk menumis
3 sdm kelapa parut, sangrai sebentar, tumbuk sampai halus dan
minyaknya keluar.

Bumbu dihaluskan:
15 bh cabai merah
1 sdm ketumbar
1/2 sdt jintan
1/2 sdt adas manis
2 sdt merica hitam bulat
1 sdm jahe cincang
2 siung bawang putih
10 buah bawang merah

Cara:
1. Lumuri kepala ikan dengan air jeruk nipis dan garam, Diamkan 15 menit. Remasremas dengan bumbu halus
2. Tumis dan tutup sambil 1-2 kali diaduk, sampai ikan berubah warna.
3. Tuang santan, beri kelapa tumbuk dan bahan lainnya, tutup. Biarkan sebentar.
4. Buka tutupnya, sesekali diaduk sampai mendidih dan matang.
5. Sajikan hangat.

Pindang Ikan Patin

Bahan:
1 kg ikan patin, siangi, cuci bersih, potong2x, lumuri dgn 1 sdm air jeruknipis ± 15
menit, tiriskan.
3 btg serai, memarkan
3 lbr daun salam
5 cm jahe, memarkan
3 buah tomat merah, belah 4
5 buah tomat hijau, belah 4
2 buah cabai merah, iris halus ± 2 cm
15 buah cabai rawit utuh
25 gr daun kemangi
3 sdm air asam
2 sdm kecap manis
2 sdm gula merah
Garam secukupnya
Gula secukupnya

Bahan Yang Dihaluskan:
5 buah cabai merah
6 siung bawang putih
6 buah bawang merah

Cara Membuat:
Rebus bumbu halus, daun salam, serai, jahe, lengkuas dalam panci berisi 1250 cc air,
dengan api sedang Masukkan ikan dan bahan lainnya, beri garam sesuai selera
hingga terasa asam manis, dan pedas. masak hingga matang.

Pindang Tongkol

Bahan :
sebit-sebit pindang tongkol menjadi kecil sesuai serat dagingnya.
siapkan :
Cabe hijau potong serong,
cabe merah potong serong,
tomat hijau potong empat
bawang merah, iris tipis
bawang putih iris tipis
jagung manis dipipil (ato jagung manis kaleng)
kemangi
salam, laos, sereh, digeprek

Cara Membuat :
1. Panaskan minyak goreng, tumis bawang merah, sereh, dan lengkuas hingga setengah layu, masukkan bawang putih, cabe merah dan cabe hijau, tumis sebentar masukkan jagung manis, kasih sedikit air, biarkan hingga jagung mateng (bila pakai jagung kaleng tumis sebentar saja), masukkan pindang tongkol dan daun kemangi , aduk sebentar beri garam dan gula, angkat, sajikan.
2. oya, jagung manis bisa dilengkapi dengan kacang polong, dll ato pakai mixed
vegetable. sajikan hangat.

Senin, 03 Mei 2010

Soto Mie


Bahan :
6 buah tomat, dipotong-potong
8 lembar daun jeruk
3 lembar daun salam
4 buah kentang, kupas, belah 2, goreng hingga matang, potong-potong
2 batang serai, memarkan
½ kg mie kuning/mie basah, dikukus sebentar
¼ kol, iris tipis
1 kg daging sandung lamur (½ kg sandung lamur & ½ kg kulit sapi/kikil),
rebus sampai daging empuk, potong-potong. Saring kuah bekas
merebus daging sebanyak 1500 ml liter.
3 batang daun bawang, iris tipis
10 buah lumpia/risoles, siap pakai, potong-potong
3 sdm minyak goreng untuk menumis
Bumbu halus :
15 buah bawang merah
8 buah bawang putih
1 sdt merica bubuk
2 cm jahe
2 cm kunyit
5 buah cabai merah
garam secukupnya

Cara membuat:
1. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan sampai harum baunya, kemudian masukkan serai, daun jeruk dan daun salam. Aduk rata.
2. Masukkan tumisan bumbu ke dalam panci air sisa rebusan daging, lalu masukkan potongan daging dan masak sampai mendidih. Angkat. Sisihkan.
3. Cara penyajiannya : taruh dalam mangkuk mie, potongan tomat, potongan kentang, dan risoles. Siram dengan kuah beserta potongan daging.
4. Taburi dengan daun bawang iris. Santap selagi panas dengan perasan air jeruk nipis dan kecap manis.
5. Membuat lumpia/risoles sendiri :
Siapkan 10 -15 lembar kulit lumpia. Rebus 150 gr bihun hingga matang, angkat dan tiriskan.Tumis 1 siung bawang putih cincang, lalu masukkan bihun, tambahkan garam dan merica secukupnya, aduk rata. Angkat. Isikan setiap lembar kulit lumpia dengan 1 sdm bihun, lipat kemudian gulung, Rekatkan pinggirannya dengan putih telur. Goreng lumpia hingga matang dan berwarna kekuningan.

Soto Padang


Bahan:
600 gr daging sapi
400 ml kaldu daging
minyak goreng
2 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
1 sdt garam
8 bh bawang merah
5 siung bawang putih
3 cm kunyit
2 cm lengkuas
1 ltr air
2 btg serai, memarkan
4 lbr daun jeruk
2 lbr daun salam
1 sdt garam
1/4 sdt lada bubuk
1 bh pekak utuh
2 bh kapulaga utuh
2 bh cengkeh utuh

Pelengkap:
50 gr soun, seduh sampai lunak
4 bh perkedel kentang
2 btg daun bawang, iris halus
2 btg daun seledri, iris halus
4 ptg jeruk nipis
kerupuk kanji warna merah
sambal matang

Cara membuat:
1. Rebus daging dengan bawang putih, ketumbar, dan garam sampai empuk. Angkat lalu iris-iris tipis. Goreng irisan daging sampai kering dan renyah. Angkat dan tiriskan.
2. Haluskan bawang merah, bawang putih, kunyit, dan lengkuas, masukkan ke dalam 1 liter air, didihkan.
3. Tambahkan serai, daun jeruk, daun salam, garam, lada, pekak, kapulaga, dan cengkeh, masak sampai mendidih.
4. Sajikan dalam mangkuk bahan pelengkap dan daging goreng, siram dengan kuah soto. Sajikan selagi panas.

Untuk 4 porsi

Soto Ayam Lamongan

Bahan:
1 ekor ayam kampung (berat lebih kurang 800 gr)
2 sdm minyak goreng untuk menumis
1 ruas jahe, memarkan
4 cm lengkuas, memarkan
3 butir cengkeh
garam secukupnya

Bumbu yang dihaluskan:
5 buah bawang merah
4 siung bawang putih
½ sdt merica utuh
1 sdt ketumbar sangrai
6 butir kemiri sangrai
2 cm kunyit.

Untuk pelengkap:
50 gr suun, seduh air panas hingga lunak, tiriskan dan gunting-gunting.
50 gr kol iris halus
2 batang daun seledri, iris halus
2 sdm bawang goreng
1 sdm bawang putih goreng
3 butir telur ayam rebus, iris bulat
kerupuk udang, sambal cabai rawit rebus, jeruk nipis, iris.

Cara membuat:
Rebus ayam dengan 2 liter air, sampai empuk dan matang. Angkat ayamnya dan potong kecil-kecil, dan sisihkan kaldunya.

Panaskan minyak goreng dalam wajan, tumis bumbu yang dihaluskan sampai harum, tuang 4-5 sendok kaldu ayam, masukan jahe, lengkuas, cengkih, dan garam. Aduk sampai tercampur rata. Masak selama lebih kurang 5 menit. Masukkan sisa kaldu. Masak di atas api kecil hingga kaldu kembali bergolak dan masak terus selama 20 menit. Angkat.

Cara menghidangkan:
Tempatkan potongan daging ayam dalam mangkuk soto. Beri suun, irisan kol, irisan seledri, dan telur. Tuang kuah soto yang masih panas. Taburi bawang goreng dan bawang putih goreng. Hidangkan dengan sambal cabai rawit rebus, kerupuk udang dan irisan jeruk nipis.

Pempek Palembang

Bahan:
1 Cangkir (1 bagian) Ikan Tenggiri Giling
1 Cangkir (1 bagian)� Air putih
Garam secukupnya
2 sdm minyak goreng
Tepung kanji secukupnya

Saus Cuko:
1 kg gula merah yang bagus,potong-potong
cabai rawit sesuai selera
200 g bawang putih
3 sdm cuka putih/air asam/air jeruk nipis
garam secukupnya
2 liter air

Cara Membuat:

  • Campur ikan giling dengan air dan garam hingga benar-benar larut dan cukup asinnya.
  • Tambahkan tepung kanji secukupnya sampai adonan bisa diuleni (banyak sedikit tepung kanji tergantung pada kekenyalan yang diinginkan). Jika suka yang kenyal bisa dipakai lebih banyak.
  • Adonan pempek palembang siap dibentuk sesuai selera. Untuk pempek kapal selam, ambil adonan secukupnya, bentuk seperti mangkuk, isi dengan telur ayam mentah lalu rekatkan agar tidak bocor.
  • Rebus dalam air mendidih dengan api sedang hingga mengapung. Angkat, tiriskan. Masukkan dalam air dingin.
  • Untuk pempek lenjer, bentuk� adonan seperti silinder dan rebus sampai mengambang kemudian angkat dan masukkian dalam air dingin.
  • Untuk andaan, ambil adonan secukupnya, tambahkan sedikit bawang goreng atau daun bawang iris seta telur, aduk rata.
  • Bentuk adonan menjadi bola-bola dan goreng dalam minyak panas dengan api kecil hingga mengapung dan matang.
    Saus Cuka:
  • Masak gula merah bersama air secukupnya hingga larut.
  • Haluskan bawnag putih dan cabai rawit lalu tambahkan ke dalam rebusan gula dan didihkan.
  • Masukkan cuka dan garam. Rebus dengan api kecil selama 1 jam hingga agak kental. Angkat dan saring.
  • Sajikan pempek palembang dengan ebi yang dihaluskan.
  • Catatan:

    • Pilih ikan tenggiri yang segar dan ambil dagingnya lalu haluskan hingga serabut-serabut putih dari dagingnya terangkat.
    • Untuk resep tradisional ini, ukur daging tenggiri halus dalam wadah atau mangkuk. Kemudian tambahkan air sebanyak ukuran daging ikannya (misal, jika setengah mangkuk ikannya, air yang dipakai setengah mangkuk juga).
    • Jumlah tepung kanji yang dipakai disesuaikan dengan tingkat kekenyalan pempek palembang yang diinginkan. Makin banyak kanji akan makin kenyal atau keras.
    • Secara tradisional pempek palembang disajikan tanpa mi kuning.

    Jumat, 30 April 2010

    Mengenal Rasulullah SAW

    Pengertian Rasul, Nabi serta Risalah

    Rasul adalah lelaki pilihan dan yang diutus oleh Allah dengan risalah kepada manusia. Rasul merupakan yang terbaik diantara manusia lainnya sehingga apa yang dibawa, dikatakan dan dilakukan adalah sesutu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan manusia lain.

    Nabi adalah lelaki pilihan yang diutus oleh Allah mendapatkan wahyu berupa syariat namun tidak harus disampaikan. Nabi diutus untuk mengukuhkan syariat sebelumya.

    Risalah adalah sesuatu yang diwahyukan Allah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Ciri-ciri Rasul:
    a. Laki-laki yang berasal dari manusia, QS. Al Kahfi (18) : 110
    b. Ma’sum terjaga dari kesalahan, QS. An Najm (53) : 2-5
    c. Menjadi suri teladan, QS. Al Ahzab (33) : 21
    d. Memiliki akhlaq yang mulia; shidiq, tabligh, amanah dan fathonah. QS. Al Qalam (18) : 4
    e. Memiliki mu’jizat, QS. Al Qomar (54) : 1
    f. Tersampaikan berita tentang kedatangannya, QS. Ash Shaff (61) : 6
    g. Adanya berita kenabian, QS. Al Furqan (25) : 30
    h. Hasil perbuatan seperti kader (sahabat), lingkungan dan tatanan kehidupan dan peradaban Islami, QS. Al Fath (48) : 29

    Tugas Para Rasul

    A. Umum
    1. Menyampaikan risalah, QS Al Maidah (5) : 67
    2. Memperkenalkan Al Khalik, QS. Ali Imran (3) : 190
    3. Menjelaskan cara beribadah,
    Hadits : “Shalatlah kamu seperti halnya aku shalat”. (HR. Bukhori, Muslim)
    4. Menjelaskan pedoman hidup,
    Hadits : “Rasulullah SAW bersabda: “ Barangsiapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan untuknya, Dia akan pandaikan dalam hal agama”. (HR. Bukhari, Muslim)
    5. Mendidik
    Berdasarkan Sirah Nabawiyah, menunjukkan bagaimana para sahabat belajar di rumah Arqom bin Abi Arqom.

    B. Khusus
    1. Menegakkan din Allah, QS. Asy Syuura’ (42) : 13-15
    2. Menegakkan khilafah, QS. An Nuur (24) : 55
    3. Membina kader, QS. Ali Imran (3) : 104
    4. Membuat konsep panduan da’wah, QS. Ali Imran (3) : 159
    5. Melaksanakan panduan da’wah, QS. Al Baqarah (2) : 208

    Kamis, 29 April 2010

    Rasulullah SAW Teladan Kita

    Sebagai nabi penutup, Rasulullah SAW memiliki beberapa sifat-sifat dasar yang agung diantaranya:

    1. Manusia (Al Basyariyah)

    Rasulullah merupakan manusia biasa seperti kita semua. Perbedaannya Allah SWT memberikan wahyu untuk disampaikan kepada orang lain. Dengan keyakinan ini sebenarnya mengantarkan kita bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk menolak perintah Rasulullah SAW. Tidak ada alasan tidak mampu apalagi tidak mungkin, karena Rasulullah juga memiliki tanggungan seperti layaknya manusia biasa seperti bekerja, memiliki istri, anak bahkan beliau mendapat tambahan amanah yang lebih berat yaitu mendidik manusia dan memimpin mereka. (QS. Ibrahim (14) : 11)

    2. Terpelihara dari Kesalahan (Al ‘Ishmah)

    Oleh karena Rasulullah SAW adalah manusi pilihan maka beliau dilebihkan oleh Allah SWT terpelihara dari kesalahan. Hal ini perlu karena yang disampaikannya adalah amanah dari Allah sehingga Allah perlu memelihara aturan dan firman-Nya dari kesalahan. (QS. Al Maidah (5) : 67)

    3. Benar (As Shidq)

    Orang yang membawa kebenaran tentunya ia sendiri harus memiliki sifat shidq sehingga apa yang disampaikan dapat diterima oleh manusia. Selain itu karena sifat shidq, Rasulullah tidak berbicara mengikuti hawa nafsunya. Beliau berkata yang benar dan bermanfaat saja. (QS. Al Najm (53) : 3-4).

    4. Cerdas (Al Fathonah)

    Kecerdasan Rasulullah dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan para sahabat maupun orang lain, cara Rasulullah dapat menyelesaikan masalah, ataupun dalam menyusun strategi da’wah. (QS. Al Fath (48) : 27)

    5. Amanah (Al Amanah)

    Amanah secara umum berarti bertanggung jawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, melaksanakan perintah, menunaikan keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu yang telah disepakati. (QS. An Nisaa’ (4) : 58)

    6. Menyampaikan (At Tabligh)

    Kewajiban Rasulullah SAW adalah menyampaikan perintah Allah kepada manusia, kemudian manusia berkewajiban pula menyampaikan risalah ini kepada siapa saja yang mau menerimanya. (QS. Al Maidah (5) : 67)

    7. Komitmen (Al Iltizam)

    Rasulullah dan para sahabat selalu mencontohkan sikap untuk selalu komit terhadap Islam, walaupun diterpa cobaan yang bertubi-tubi. Dengan adanya Iltizam inilah maka nilai-nilai Islam akan selalu terpelihara. (QS. Al Israa’ (17) : 74). Tanpa Iltizam maka godaan syaithan dan gangguan orang kafir akan mudah menggoncang kita. Kita jadi mudah tergelincir karena kita tidak punya benteng iltizam.

    Tokoh Islam - Thalhah Bin Ubaidillah

    Thalhah Bin Ubaidillah

    Syahid Yang Masih Hidup

    I. Pendahuluan

    Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita contoh dan kita teladani. Dalam hidupnya ia mempunyai tujuan utama yaitu bermurah dalam pengorbanan jiwa.

    Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah seorang dari delapan orang yang pertama masuk Islam, dimana saat itu satu orang bernilai seribu orang.

    Sejak awal keislamannya hingga akhir hidupnya ia tidak pernah mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Ia juga dikenal sebagai orang jujur, tidak pernah menipu apalagi berkhianat. Thalhah masuk Islam melalui anak pamannya, Abu Bakar Assiddiq ra.

    II. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

    Dengan disertai Abu Bakar Assiddiq, Thalhah pergi menemui Rasulullah SAW. Setelah berhasil berjumpa dengan Rasulullah SAW, Thalhah mengungkapkan niatnya hendak ikut memeluk Dinul haq, Islam. Maka Rasulullah SAW menyuruhnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah menyatakan keislamannya di hadapan Muhammad SAW. Thalhah dan Abu Bakar ra. pun pergi. Tapi di tengah jalan mereka dicegat oleh Nofal bin Khuwalid yang dikenal dengan “Singa Quraisy”, yang terkenal kejam dan bengis. Nofal kemudian memanggil gerombolannya untuk menangkap mereka. Ternyata Thalhah dan Abu Bakar tidak hanya ditangkap saja, mereka diikat dalam satu tambang. Semua itu dilakukan Nofal sebagai siksaan atas keislaman Thalhah.

    Oleh karena itulah Thalhah dan Abu Bakar ra. dijuluki “Alqori-nain” atau “dua serangkai”. Dan sesudah masuk Islam Thalhah selalu mendampingi Rasulullah SAW.

    Riwayat hidup Thalhah merupakan hembusan angin yang harum dalam rangkaian sejarah yang agung penuh keteladanan. Oleh karena itu alangkah patutnya bila kita menerapkan sejarah lama untuk masa kini dan merintis jalan yang pernah ditempuh pendahulu kita serta beriman sebagaimana mereka beriman, jujur, ikhlas dan setia seperti yang mereka lakukan dan berjihad sebagaimana mereka berjihad.

    Nasib agama kita akan membaik bila kita menempuhnya dengan cara yang ditempuh para pendahulu kita, sebagaimana yang Allah firmankan: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qoof : 37)

    Thalhah adalah seorang lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi kesulitan, kesakitan dan segala macam ujian lainnya. Ia orang yang kokoh dalam mempertahankan pendirian meskipun ketika di jaman jahiliyah.

    Ketika pergi ke Syam ia singgah sebentar di Bushra. Di situ ia mendengar ada seorang pastur yang sedang mencari orang berasal dari Mekah. Mengetahui hal itu maka Thalhah segera mendekati pastur itu. Ternyata pastur itu mempertanyakan seorang lelaki bernama Ahmad bin Abdillah bin Abdul Muthalib di Mekah, karena kini sudah saatnya dia muncul.
    Setelah pulang dia bertemu dengan Abu Bakar dan masuk Islam sesudah Utsman bin Affan.

    Sewaktu perang Badar, Thalhah tidak ikut bertempur di medan laga karena pada waktu itu ia diberi tugas khusus oleh Rasulullah SAW sebagai pengintai kafilah Quraisy yang tengah menuju daerah Alhaura.

    III. Perang Uhud

    Bila diingatkan tentang perang Uhud, Abu Bakar ra. selalu teringat pada Thalhah. Pada waktu itu akulah orang pertama yang menjumpai Rasulullah SAW. Ketika melihat aku dan Abu Ubaidah, baginda berkata kepada kami: “Lihatlah saudaramu ini.” Pada waktu itu aku melihat tubuh Thalhah terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah dan jari tangannya putus.

    Bagi bangsa Quraisy perang Uhud merupakan tindak balas atas kekalahannya sewaktu perang Badar. Pada awal pertempuran Uhud kaum muslimin telah memperoleh kemenangan. Pasukan kafir Quraisy kocar-kacir dan mundur dari medan perang. Tapi ketika kaum muslimin melihat mereka mundur, para pemanah yang bertugas di bukit menutup jalur belakang segera berlari turun. Mereka kemudian mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Mereka mengira pertempuran telah berakhir.

    Ternyata pasukan musuh menerobos melalui jalur belakang. Pasukan kaum muslimin benar-benar telah lengah sehingga mereka dapat dipukul dari dua arah, maka mendadak mereka menjadi panik dan tak tahu harus berbuat apa. Peristiwa ini akibat dari kesalahan pasukan pemanah yang ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk melindungi pasukan muslimin dari serangan musuh yang berasal dari belakang.

    Pertempuran sengitpun terjadilah. Kaum musyrikin benar-benar ingin membalas dendam. Mereka masing-masing mencari orang yang pernah membunuh keluarga mereka sewaktu perang Badar. Mereka berniat akan membunuh dan memotong-motongnya dengan sadis.

    Semua musyrikin berusaha mencari Rasulullah SAW. Dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat mereka terus mencari Rasulullah SAW. Mereka amat gemas, benci dan penasaran karena sewaktu hijrah ke Madinah, mereka tidak berhasil menemukan Muhammad. Kini, pada saat perang Uhud, mereka dengan dendam membara terus mencarinya. Tetapi kaum muslimin melindungi Rasulullah SAW. Mereka melindungi baginda Rasulullah SAW dengan tubuhnya dan dengan segala daya. Mereka rela terkena sabetan, tikaman pedang dan anak panah.

    Tombak dan panah menghujam mereka, tetapi mereka tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati-hati mereka berucap dengan teguh, “Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau ya Rasulullah.”

    Salah satu diantara mujahid yang melindungi nabi SAW dengan tulus ikhlas adalah Thalhah. Ia berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah. Dipeluknya tubuh baginda dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada di tangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya seperti laron yang tidak mempedulikan maut.

    Alhamdulillah, Rasulullah selamat. Peristiwa ini merupakan pelajaran dan pengalaman pahit yang tidak terlupakan.

    Itulah sekilas uraian tentang keteguhan dan pengorbanan Thalhah melindungi Rasul-Nya. Thalhah memang merupakan seorang pahlawan dalam barisan tentara perang Uhud. Ia siap berkorban membela Nabi SAW. Ia memang patut ditempatkan pada barisan depan karena Allah telah menganugerahkan kepada dirinya tubuh yang kuat dan kekar, keimanan yang teguh dan keikhlasan pada agama Allah.

    Akhirnya kaum musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira Rasulullah SAW telah tewas.

    Alhamdulillah, Rasulullah SAW selamat walaupun dalam keadaan menderita luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki bikit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kakinya diciumi oleh Thalhah seraya berkata, “Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah ibuku.”

    Nabi SAW tersenyum dan berkata, “Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Di hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh….”. Yang dimaksud Nabi SAW adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan “Burung Elang dari Uhud”.

    IV. Ketika Thalhah Hijrah

    Pada waktu hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW pergi dengan Abu Bakar ra., sedangkan Ruqayah, putri Rasulullah SAW pergi bersama suaminya, Utsman ra. Adapun Zainab, putri sulung Rasulullah SAW tidak hijrah karena ia menetap di Mekah bersama suaminya Abul Ash ibnu Arrabi yang masih kafir. Adapun Ummu Khaltum dan Fatimah tengah menunggu orang yang akan menemani dan mengawal mereka sehingga bisa selamat sampai di kota Madinah. Dan Thalhah mendapat kehormatan untuk menyertai mereka.

    Pengawalan khalifah diserahkan kepada Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid. Kafilah berangkat ke Madinah. Mereka yang ikut serta dalam rombongan itu antara lain Fatimah, Ummu Khaltum dan istri Rasulullah SAW ummul mukmu\inin yaitu Saudah binti Zum’ah dan Ummu Aiman ra.

    V. Thalhah yang Dermawan

    Pernahkah anda melihat sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi daratan dan lembah? Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia adalah salah seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Istrinya bernama Su’da binti Auf.

    Pada suatu hari istrinya melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang istri segera menanyakan penyebab kesedihannya, dan Thalhah menjawab, “Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan?” Maka istrinya berkata, “Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir miskin.” Maka dibagi-bagikannyalah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeser pun.

    Assaib bin Zaid pun berkata tentang Thalhah. Katanya, “Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya.”

    Jabir bin Abdullah pun bertutur, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dati Thalhah walaupun tanpa diminta.”

    Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, “Thalhah kebaikan dan kebajikan”.

    VI. Wafatnya Thalhah

    Sewaktu terjadi pertempuran “Al Jamal”, Thalhah bertemu dengan Ali ra. Ali memperingatkannya agar ia mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah mengenai betisnya maka dia segera dipindahkan ke Basra dan tak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam, ia wafat.

    Thalhah wafat pada usia enam puluh tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basra.

    Rasulullah SAW pernah berkata pada para sahabat ra. “Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi maka lihatlah Thalhah.”

    Hal ini juga dikatakan Allah dalam firman-Nya: “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (QS. Al Ahzab : 23)

    Tokoh Islam - Abdurrahman bin Auf

    Abdurrahman bin Auf

    Pedagang Besar Yang Sukses

    I. Orang Ketujuh dari Kesepuluh Orang yang Dikabari Masuk Surga

    Abdurrahamn bin Auf adalah kawan akrab Abu Bakar Assidiq ra. oleh karena itu ketika Abu Bakar menawarkan Islam kepadanya, Abdurrahman langsung menerimanya.

    Dalam sejarah Islam, ia dicatat sebagai orang ke delapan yang pertama masuk Islam dan orang kelima yang diislamkan Abu Bakar ra.

    Perang Uhud telah memberikan bekas lebih dari dua puluh luka dalam tubuhnya dan salah satu lukanya menyebabkan dia pincang. Perang Uhud juga menyebabkan beberapa giginya rontok sehingga mempengaruhi ucapan dan tutur katanya.
    Dalam lubuk hatinya telah terhujam hijrah dan jihadnya fisabilillah semata-mata untuk mengibarkan panji Islam dan untuk meninggikan kejayaannya.

    Abdurrahman telah mengenal jalan ke surga. Oleh karena itu ia ingin memperolehnya dengan pemberian dan pengorbanan. Pemberian dan pengorbanan dengan seluruh harta dan jiwa raganya. Pengorbanan dengan jiwa raga adalah puncak dari segala kemurahan hati.

    Abdurrahman bin Auf menyatakan keislamnnya sebelum Rasulullah SAW menetapkan rumah Al Arqam bin Abi Al Arqam sebagai pusat da’wah.

    II. Seorang Pedagang Ilahi Rahmani

    Abdurrahman sangat mahir berdagang. Ia menguasai perekonomian dan keuangan. Lagipula hidupnya selalu disertai dengan kemujuran taufik dan barokah.

    Dia pernah berkata, “Anda akan melihat aku, tiap saat aku mengangkat batu aku berharap menemukan di bawahnya emas atau perak.”

    Tetapi kegiatannya dalam perdagangan tidak menghambat pelaksanaan aqidahnya yang telah diyakini dan diperjuangkannya, selalu siap menanggung resiko dan akibatnya.

    III. Berhijrah Kepada Allah

    Setelah gangguan dan siksaan Quraisy mengganas, Abdurrahman pergi hijrah ke Habasyah. Sekembalinya dari Habasyah ia mendapat gangguan dan gangguan itu semakin memuncak tatkala ia hijrah kembali ke Habasyah untuk kedua kalinya. Hijrahnya ini ia lakukan karena keadaannya sudah sangat tertindas.

    Bukankah caranya melarikan diri itu membuktikan kelemahan jiwanya? Ya, memang benar, tapi dia melarikan diri untuk mempertahankan dan menyelamatkan agamanya. Dia melarikan kepada Allah Robbul ‘Alamin. Dari cengkeraman manusia-manusia yang sesat. Itu adalah hak kaum lemah di muka bumi untuk menyelamatkan agama mereka sedapat mungkin agar mereka dan da’wahnya tidak dibantai dalam buaian.

    Bumi Allah itu sangat luas dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rejeki yang banyak.

    Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang pilar da’wah Islamiyah dan salah seorang yang dibina dan dipersiapkan Nabi SAW untuk membawa panji dan penyebaran agama Islam. Setelah hijrah ke Madinah seluruh harta kekayaan dan perdagangannya disita dan dirampas Quraisy, penguasa Mekah.

    Begitu pula denga harta kekayaan Shuhaib Arrumi. Hartanya disita sebagai imbalan dan syarat diijinkannya berhijrah. Ketika mendengar peristiwa tersebut Nabi SAW bersabda: “Demi Allah Shuhaib beruntung.”

    IV. Abdurrahman Memulai yang Lebih Tinggi Dari Kekayaan Dunia

    Di kota Madinah, kaum Muhajirin dan Anshor hidup rukun sekali. Dukungan serta bantuan dari kaum Anshor sangat besar sehingga tidak pernah ada pertolongan yang sebesar itu dalam sejarah sebelumnya.

    Kaum Anshor mengutamakan kaum Muhajirin di atas kepentingan diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kesusahan dan kesempitan. Tapi kaum Muhajirin tidak ingin selalu menjadi beban orang lain karena Islam membina umat ke arah hidup mulia, terhormat dan mendorong orang bekerja dan berusaha. Kaum Anshor adalah petani, sedangkan kaum Muhajirin pada umumnya adalah pedagang.

    Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshor. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad ibnu Arrabil Alausari, orang yang kaya raya.

    Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Hartaku seluruhnya separuh untuk kamu dan aku akan berusaha mengawinkan kamu.”

    Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan saudaramu. Tunjukkan saja dimana tempat pasar perdagangan Rasulullah SAW di Mekah?” Sa’ad menjawab, “Oh baiklah, ada, yakni pasar bani Qainuqaa.”

    Abdurrahman memulai usahanya dengan berdagang sagu dan minyak samin. Tapi tidak lama kemudian dia sudah dapat mengumpulkan sedikit uang dari hasil keuntungan dagangnya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah menikah?”
    Abdurrahman menjawab, “Benar, ya Rasulullah.”
    Nabi SAW bertanya, “Dengan siapa?”
    Abdurrahman menjawab, “Dengan wanita dari Anshor.”
    Nabi SAW bertanya, “Berapa mahar yang kamu berikan?”
    Abdurrahman menjawab, “Sebutir emas” (masudnya emas seperti dan seberat sebutir kurma).
    Nabi menyuruhnya, “Adakan walimah meskipun dengan seekor domba.”
    Lalu Abdurrahman mengundang kaum Muhajirin dan Anshor dalam suatu walimah sebagai pengumuman tentang pernikahannya.

    Rasulullah SAW menghendaki kaum muslimin meneladani perjuangan, usaha dan kerja Abdurrahman bin Auf yang telah berhasil merintis jalan ke arah hidup mulia dan terhormat. Tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: “Tidak ada sesuatu makanan yang baik melebihi apa yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Nabi Allah Daud makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)

    “Seseorang yang mencari kayu lalu memanggulnya di atas pundaknya lebih baik baginya dari mengemis yang kadangkala diberi atau ditolak.” (H.R. Bukhari)

    Nabi SAW ditanya, “Penghasilan apa yang paling baik?” Maka beliau menjawab, “Apa yang dihasilkan orang dari pekerjaan tangannya dan semua jual beli mabrur.” (HR. Bukhari dan Al Hakim)

    Dengan anjuran dan bimbingan Nabi SAW, kaum muslimin bangkit. Di antara mereka ada yang menjadi petani, pedagang, pandai besi, penjahit, buruh pekerja dan lain-lain dan tidak ada seorang pun yang menganggur.

    Kegiatan dan gerakan itu diikuti oleh kaum wanita. Seorang wanita datang kepada Nabi SAW sambil membawa sehelai mantel untuk dihadiahkan kepada beliau, seraya berkata, “Ya Rasulullah, mantel ini aku tenun sendiri dengan tanganku, “Rasulullah SAW menerima hadiahnya itu.” (HR. Bukhari)

    Abdurrahman bin Auf sukses dalam perdagangannya dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Nabi SAW. Ia selalu menghiasi dirinya dengan adab sopan Islami sehingga Allah memberkahinya dan membimbing langkah-langkahnya.

    Setelah menjadi orang kaya raya, Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Hai Abdurrahman bin Auf, kamu sekarang menjadi orang kaya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak (mengingsur). Pinjamkanlah hartamu kepada Allah agar lancar kedua kakimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak)

    Pesan-pesan Rasulullah SAW tersebut amat menyentuh hatinya, oleh karena itu sejak saat itu dia banyak beramal sodaqoh dan Allah melipat gandakan kekayaannya.

    Dia bersaing dengan Utsman bin Affan dalam membiayai pasukan Islam yakni dengan menyerahkan separuh dari kekayaannya kepada Rasulullah SAW.

    Ketika menerimanya Rasulullah SAW berdo’a: “Semoga Allah memberkahimu dalam apa yang kamu tahan dan kamu berikan.”

    Kemudian turun ayat firma Allah SWT:

    “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dengan menyakiti (perasaan si penerima) mereka memperoleh pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

    Ketika telah dekat dengan ajalnya, Abdurrahman bin Auf berwasiat agar setiap kaum muslimin peserta perang Badar yang masih hidup, diberi empat ratus dinar dari harta warisannya, dan ternyata peserta perang Badar yang masih hidup berjumlah seratus orang, termasuk Utsman ra. dan Ali ra.

    Dia juga berwasiat agar sejumlah besar uangnya diberikan kepada ummahatul mukminin (janda-janda Rasulullah SAW), sehingga Aisyah berdo’a:

    “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”

    Dari Ali ra. berkata sesudah Abdurrahman bin Auf wafat. Katanya, “Pergilah wahai ibnu Auf. Kamu telah memperoleh jernihnya dan telah meninggalkan kepalsuannya (keburukannya).” (HR. Al Hakim)

    Ini berarti Abdurrahman bin Auf telah memperoleh pahala dari harta yang diinfakkannya, dan ia meninggalkan akibat buruk dari harta yang telah ditinggalkannya.

    Ketika wafat jenazah Abdurrahman bin Auf disholatkan oleh Utsman ra. dan diusung oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ra. ia wafat dalam usia 75 tahun dan dimakamkan di pemakaman Albaqii.